Bayi Bu Supartini Keracunan Di Dalam Kandungan!

Bantu Post – Mengalami keracunan sejak usia kandungan 6 bulan, bayi bu Suhartini berjuang melawan gangguan pernafasan yang membuatnya terbelenggu di ruang PICU. Bersamaan dengan vonis anaknya yang masih di dalam kandungan, ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai salah satu mekanik listrik dan saat mencari nafkah untuk keluarga sebagai kuli bangunan.

Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, pak Ady membungkuk seharian untuk mengaduk semen. Meskipun punggungnya sakit, namun tekad dalam hati membuatnya mengabaikan rasa lelah yang melanda tubuhnya. Pak Ady mencoba untuk fokus dalam melakukan pekerjaannya, tetapi wajah bayinya saat ini sedang berjuang di ruang NICU selalu ada dalam pikirannya.

Semua beawal saat bu Supartini, sang istri, yang sedang hamil menderita hipertensi. Sekujur tubuhnya termasuk wajah mengalami bengkak hebat! 6 bulan setelah mengandung, dokter yang melakukan pemeriksaan memvonis janin yang ada dalam perut istri saya mengalami keracunan dan sejak itu perjuangan mereka dimulai.

Kondisi tubuh bu Supartini tidak kunjung membaik dan ia harus selalu pulang pergi ke rumah sakit. Puluhan juta sudah habis, pak Ady dan bu Supartini bahkan harus rela menjual barang berharga seperti perhiasan dan beberapa aset lainnya untuk menjaga keutuhan keluarga mereka. Sedihnya, pak Ady yang berjuang mati-matian untuk selalu mencukupi biaya berobat sang istri dan bayinya yang masih dalam perut malah harus kehilangan pekerjaannya sebagai teknisi listrik.

Akhirnya pak Any mendapatkan sebuah lowongan pekerjaan sebagai buruh kuli lepas. Selama 3 bulan belakangan ini pak Ady bekerja keras siang dan malam, melawan panas dan hujan untuk dapat mengumpulkan uang. Keajaiban pun terjadi, dimana sang bayi lahir dengan selamat!

Tetapi kebahagian tidak berlangsung lama, dimana adik bayi mengalami gangguan pada sistem pernafasan yang membuatnya harus dibantu dengan ventilator untuk menyambung hidupnya.

Alih-alih ingin merasakan kehangatan pelukan orang tua, adik bayi kini harus merasakan panasnya inkubator. Berbagai obat juga disalurkan ke dalam tubuh mungil adik bayi yang tidak berdaya. Kedua orang tua juga merasa terpukul akan kejadian tersebut, terutama bu Supartini hanya dapat melihat perjuangan bayinya di dalam inkubator, sementara suaminya tidak henti mengangkat beban berat dan mengaduk semen.

Pak Ady dan bu Supatini sedang berusaha untuk menyelamatkan bayi mereka, walau biaya pengobatan terus menggunng. Jika pengobatan terhenti, maka kerusakan secara permanen di organ paru-paru atau bahkan otak dapat menerkam adik bayi yang tidak berdaya.

Yuk #OrangBaik, satukan hati dan berikan pertolongan untuk bayi pak Ady dan Bu Supartini dengan cara:

-Klik tombol “DONASI SEKARANG
-Masukkan nominal donasi
-Pilih metode pembayaran GO-PAY, Jenius Pay, LinkAja, DANA, Mandiri Virtual Account, BCA Virtual Account, atau transfer Bank (BNI, Mandiri, BCA, BRI, BNI Syariah, atau kartu kredit) dan transfer ke no. rekening yang tertera.

Tidak hanya berdoa serta menyumbang, Anda juga dapat berbagi halaman penggalangan dana ini, sehingga semakin banyak orang yang dapat menemani perjuangan pak Ady dan bu Supartini untuk kesembuhan anaknya.

Terima kasih banyak, #OrangBaik