Mari Patungan dan Bebaskan Mereka Dari Kelaparan!

Bantu Post – Anak Panti Di daerah Pelosok Kabupaten Malang ini, Sudah Lama Menanti Bantuan. Yuk Traktir Ratusan Yatim Piatu di Pelosok Kabupaten Malang Dengan Rawon Dan Pecel!

Halo kak, namaku Ramadhan..

“Aku lagi senang-senangnya menghafal qur’an, biar pahala untuk orangtuaku bertambah. Insya Allah, aku mau ketemu mereka nanti di surga. Tapi, yang bikin aku sedih belakangan, semenjak pandemi, aku dan saudara-saudaraku tak lagi menerima bantuan. Makan saja, sampai telor ceplok kubagi dua dengan Putri, yatim piatu yang lebih kecil, karena dia merengek kelaparan terus.. – Ramadhan, yang tertua di Panti Asuhan Al-Muslimat

Halo kak, namaku Samsul

“Dulu aku ditinggal di depan rumah orang, dan dirawat oleh preman-preman pasar. Di sana, aku diajarin ngamen. Untungnya, aku ketemu pengurus panti & diajak pulang ke panti. Aku jadi kenalan ama saudara-saudaraku, kak. Aku senang, ga dipaksa buat nyanyi sampai tenggorokanku habis lagi. Tapi, semenjak Covid, aku & saudaraku tak lagi menerima bantuan. Apa Samsul ngamen lagi ya, biar bisa jajan bakso?” – Samsul

Halo kak, namaku Izam..

“Kak, terakhir kali aku melihat ibuku, ia menyuruhku nunggu di depan pasar. Terus 3 jam, ia ga pernah kembali. Itulah awalnya aku ketemu saudara-saudaraku di panti ini. Meski pelan, tapi aku sudah bisa bercanda ama mereka. Bahkan, aku punya saudara lain yang terkadang datang menyumbangkan pakaian atau makanan. Do’a ku tak pernah putus untuk kakak yang belikan aku sepatu sekolah waktu itu!” – Izam, 10 thn, dari Panti Asuhan Tujuh Tangkai

Halo kak, namaku Seka…

“Pas bagi rapor, Seka bingung kok temen-temen kelasku punya orang tua, aku nggak. Kata kakak yang mengurusku, orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Terus katanya, Seka bisa ngasih santunan pahala kalo aku bisa baca qur’an. Alhamdulillah, Seka mau banget ngobrol sama mama papa!”

Masih banyak cerita yang berbeda-berbeda dari tiap anak di Panti Asuhan ini. Namun yang sama, mereka tak lagi tinggal di sebuah rumah yang dibangun keluarga. Apalagi, semenjak pandemi, donatur di larang datang ke Panti Asuhan. Mereka yang menanti nasi kotak, pun hanya bisa mengisi perut dengan nasi jagung, lauk telor ceplok dibagi dua.

Saat ditanya, “kalian mau makan apa nih yang paling dirindukan?” kebanyakan mereka memilih bakso & mie ayam dari pedangang sekolah mereka, yang juga dirumahkan.

Sahabat, 2 bulan anak Yatim Piatu ini berjuang menahan lapar hanya demi semangkuk bakso & mie ayam. Dengan menyisihkan 20rb, adalah satu mangkuk untuk 1 anak Yatim Piatu. Kita bisa traktir mereka dengan cara:

  • Klik “DONASI SEKARANG
  • Masukkan nominal donasi
  • Pilih Metode Pembayaran
  • Segera transfer sesuai nominal jika menggunakan Transfer bank & Virtual Account