Meraih Cita – Cita Bantu Belajar Mengajar

Bantu Post – “pernah tidak isi kuota selama tiga hari. Maka tiga hari itu pula anak saya di anggap absen. Padahal bapaknyakan sekarang di rumah saja. Tidak ada pemasukan buat beli kuota ya sebenarnya mikir – mikir. Tapi kalau tidak dibelikan, kasihan anak saya”.

Situasi pandemic yang tidak kunjung mereda, membuat pembelajaran masih harus dilakukan dari jarak jauh. Demi menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran covid-19, belajar tetap harus dilakukan dari rumah, hal ini menjadikan internet sebagai kebutuhan primer demi terlaksananya pembelajaran. Sayangnya, tidak semua guru dan siswa mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia(KPAI) bersama Federasi Serikat Guru Indonesia(FSGI) melakukan survey terkait metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemic. Survey tersebut dilakukan KPAI pada 16 – 20 april 2020 dengan total responden sebanyak 602 orang, yang merupakan gabungan guru dari jenjang SD sampai SMA/sederajat di 14 provinsi dan 30 kabupaten/kota di Indonesia. Hasil survei KPAI, sekitar55.6 persen guru mengeluhkan tidak adanya kuota internet. Besarnya beban kuota internet juga menjadi keluhan terbanyak para siswa kepada KPAI.

Ditengah pendapatan yang menurun, desakan kebutuhan sehari – hari, kebutuhan kuota internet untuk belajar dan mengajar menjadi salah satu beban tersendiri. Mereka yang tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut bahkan harus rela tidak mengikuti kegiatan bersama teman – teman lain yang memiliki fasilitas memadai.

Ibu Erna, asalah satu orang tua siswa di Cirebon merasakan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan kuota internet untuk anaknya mengikuti pembelajaran. Suaminya sedang tidak bekerja, sehingga tidak ada pemasukan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga aja sulit, apalagi untuk membeli kuota internet.

“Kalau sekarang yang namanya kuota itu harus ada. Kalau tidak punya kuota ya siap – siap saja nanti anak saya nggak masuk absen”. Ucap ibu erna, seorang ibu dari salah satu siswa di Cirebon pada salah satu kanal media berita local.

“pernah tidak isi kuota selama tiga hari. Maka tiga hari itu pula anak saya di anggap absen. Padahal bapaknyakan sekarang di rumah saja. Tidak ada pemasukan buat beli kuota ya sebenarnya mikir – mikir. Tapi kalau tidak dibelikan, kasihan anak saya”.

Pak Abdullah, salah seorang guru honorer yang melihat kondisi ini dapat mengambat kualitas belajar murid – muridnya. Beliau ingin membantu dengan membelikan kuota internet untuk murid – muridnya, akan tetapi kebutuhan ekonomi keluarganya juga sedang masa sulit.

Pak Abdullah harus merasakan menurunnya pendapatan sebagai guru les. Biasanya sepulang mengajar di sekolah, beliau lanjut mengajar les privat ke rumah-rumah untuk menambah pendapatan untuk keluarganya. Memang selama pandemi juga tak ada orang tua yang mau anaknya didatangi, lantaran takut tertulari. Padahal uang hasil les sangat membantu penuhi kebutuhan sehari-hari.

Ibu Erna dan Pak Abdullah tentu tak sendirian. Ada banyak orang tua lain, guru-guru lain, siswa lain yang merasakan persoalan yang sama. Raihcita melalui Dompet Dhuafa ingin mengajak teman-teman semua untuk ikut mengulurkan tangan membantu kuota internet yang nantinya dibagikan pada guru honorer dan siswa yang membutuhkan.

  1. Teman – teman bisa ikut berdonasi dengan cara :
  2. Klik “DONASI SEKARANG
  3. Masukkan nominal donasi
  4. Pilih BANK (GO-PAY/BNI/Mandiri/BCA/BRI/BNI Syariah/Kartu Kredit)
  5. Klik “DONASI” dan ikuti langkah selanjutnya

Semoga bantuan kecil ini dapat menjadi jalan untuk mendidik anak negeri, sambil memastikan kebutuhan para guru honorer tercukupi. Kuota tercukupi, guru mengajar, siswa belajar!