Tuna Netra Tempuh Kiloan Meter Demi Air Bersih

BantuPost- Cerita, Keterbatasan fisik tak halangi Mbah Senen untuk berjalan kaki lewati bebatuan memikul wadah penuh air menggunakan bambu demi mendapatkan air bersih.

Bencana alam kekeringan kembali menghantui ratusan lokasi di Kabupaten Pacitan. Sumur tadah hujan yang menjadi andalan warga sebagai kantung air sudah kering kerontang. Sungai juga sudah menyusut berujung gersang.

Setiap tahun Kabupaten Pacitan sudah menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau. Air bersih minim dan sulit di dapat. Tak sedikit warga harus menuruni tebing curam untuk mencapai air besih.

Salah satunya, Mbah Senen (65th), ia bersusah payah berburu setetes air dari rongga-rongga sumur yang kian mengering hingga 5-7 kali dalam sehari. Sekali ambil tempuh jarak 400 meter.

Untuk memenuhi jerigen (wadah) berkapasitas sekitar 10 liter dibutuhkan waktu sekitar 30 menit, Mbah Senen harus bolak-balik dengan kondisinya penyandang tuna netra.

Bukan hanya umurnya yang sudah senja, Mbah Senen memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Saat anaknya masih berusia belasan tahun, kecelakaan pilu merenggut Mbah, kedua bola matanya infeksi karena tertusuk tanduk sapi.

Akhirnya kedua mata Mbah diangkat. Beliau menjalani sepenuh hidupanya dengan mata tertutup. Tidak melihat wujud istri dan anak serta cahaya yang bersinar di langit. Ia hanya melihat kegelapan penuh duka.

Mbah pikul dua ember berat menggunakan penyangga bahu dari kayu tanpa alas kaki.

Tak jarang, kaki Mbah Senen sering berdarah karena tidak sengaja terkena batu. Perjalanan beliau demi air bersih sangat terjal. Mbah pernah tersesat hampir masuk jurang. Sedihnya, ketika sampai dirumah, airnya tinggal sedikit karena banyak yang berjatuhan.

Menetap dirumah kecil, berdinding batu bata tanpa semen beralas tanah. Mbah Senen dan istrinya tidak memiliki uang untuk membeli air di luar daerah. Menurut Mbah, uangnya lebih baik untuk dibelikan lauk pauk. Istri Mbah memeras keringat lewat tukang pijat yang hanya dibayar seadanya. Tidak setiap hari selalu ada panggilan.

“Kalau habis angkut air ke sumur, pundak sama kaki Mbah suka sakit. Jalannya licin, walaupun sudah pakai tongkat tapi sering jatuh karena lewat batu-batuan yang tajam.”

Tapi mau bagaimana lagi, Mbah nggak tega mendengar anak sama istri kalau minum air segelas sampai harus dibagi dua.

Jangan sampai mereka kekurangan, biar Mbah aja yang merasakan kesulitan. Mbah hidup cuma untuk anak dan istri. Kebahagiaan mereka Mbah selalu usahakan.” ujar Mbah Senen saat menggiring tali ember ke dalam sumur.

Sahabat, seringkali kita membuang-buang air di rumah. Entah itu membiarkan becucuran dari pagi sampai malam. Dibalik itu, ada Mbah Senen yang memiliki keterbatasan sedang membanting tulang untuk mendapatkan air.

“Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab,”Memberi air.” (Shahih Abu Daud).

Maukah kamu membantu Mbah untuk memiliki air bersih tanpa harus menempuh berkilo-kilo meter? Mari salurkan sedekah terbaikmu, untuk membuat Mbah Senen tersenyum hari ini, dengan cara :

  1. Klik “DONASI SEKARANG
  2. Masukkan Nominal Donasi
  3. Pilih Metode Pembayaran (Go-Pay/BNI/BNI Syariah/BRI/BCA/Mandiri/Dompet Kebaikan/Kartu Kredit).

Tak hanya mendoakan dan berdonasi, saudara-saudara juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak yang turut menemani perjuangan Mbah Senen.

Terima kasih banyak, #orangbaik!

***

Disclaimer: halaman galang dana ini merupakan program bantuan untuk masyarakat yang sulit mencari air oelh Lembaga Sosial Dana Kesejahteraan Muslim. Total donasi nyang terkumpul akan disalurkan untuk membantu Mbah Senen dan ribuan masyarakat yang membutuhkan air bersih.