Tabung Pahala : Sedekah untuk Bisa Menuntut Ilmu

Bantu Post- Cerita, “Jika seseornag meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Apakah julukan dari Kota Yogyakarta? Ya, Salah satunya dikenal sebagai kota pelajar. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak anak-anak yang berasal dari keluarga pra-sejahtera mengalami kesulitan untuk bisa melaksanakan sekolah dan belajar dari rumah. Keterbatasan ekonomi menyebabkan orang tua kesulitan unutk memenuhi kebutuhan seperti smartphone dan kuota setiap bulannya untuk anak-anak mereka. Hal ini juga terjadi di Kota Yogyakarta.

Berikut cerita perjuangan anak-anak keluarga pra-sejahtera unutk tetap bisa belajar dari rumah.

***

Pak Heri (68 Tahun): Gadaikan Barang-Barang di Rumah Demi Beli HP Bekas untuk 4 Orang Anaknya Bisa Belajar.

Pak Heri (68) adalah seorang Muallaf yang bekerja menjadi pedagang gerobak dorong lontong kikil di pinggiran jalan Panjaitan, Yogyakarta. Dampak pandemi ternyata cukup berimbas pada kelangsungan dagangannya, walaupun seporsi lontong kikil dijualnya sangat terjangkau Rp 8.000/porsi namun jualannya masih sepi, tak seramai sebelum pandemi menjalar di tanah air. Demi untuk menyambung hidup dan mengusahakan tersedianyapaket internet untuk anak-anak Pak Heri rela berjualan teh celup keliling.

Pak Heri harus menggadaikan barang-barang dirumah untuk membeli HP bekas untuk keempat anaknya, karena setiap anak membutuhkan HP untuk belajar, kini Pak Heri harus berpikir keras membeli kuota internet Rp100.000 per pekan. Mungkin bagi kita kecil, namun bagi Pak Heri itu adalah masalah yang sangat berat, karena hasil dagangan lontong kikilnya kadang laku kadang juga tidak laku, bahkan sering merugi karena sepinya pembeli.

Gery, Stefani, Tiofnai, Geafani adalah kakak beradik yang hidup dari keluarga prasejahtera di salah satu pemukiman padat penduduk di Kota Yogyakarta. Sebelum pandemi merebak, adik-adik ini biasa pergi ke sekolah. Berempatnya mereka sekolah di sekolah negeri, karena berangkat dari keluarga yang kurang mampu dan di sekolah negeri mereka dapat bersekplah secara gratis karena dapat bantuan beasiswa BOS.

Namun, sejak 5 bulan terakhir, tepatnya di bulan Maret 2020, akibat dari merebaknya Covid-19 di tanah air, Pemerintah melalui Kemendikbud memutuskan untuk merubah total model pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh berbasis daring.

***

Mbah Suratinem Harus Berjalan 3 KM Demi Ambil Tugas Sang Cucu Karena Tak Miliki HP

Sempat viral di media, kisah mbah Suratinem yang tinggal hanya berdua dengan cucu sejak Devi berusia 2 bulan. Ibu nya meninggal karena penyakit jantung dan ayahnya pergi setelah ibunya meninggal ke Cianjur sampai sekarang dan tidak diketahui keberadaan nya.

Kondisi rumah yang sempit dan penerangan seadanya itupun listrik berasal dari tetangga nya yang merupakan adik kandung dari mbah Suratinem.

Kondisi rumah yang terbuat dari gedhek beliau dan cucu nya tidur dalam satu kasur sempit yang dipenuhi banyak barang-barang. Kondisi dapurnya lebih mengenaskan dengan lebar 30 cm dan panjang 3 meter menyatu menjadi kamar mandi. Dik Devi untuk pergi ke sekolah harus menaiki perbukitan yang jalannya naik turun dan berbatu sejauh 3 KM lebih dari rumah nya kadang menumpang naik motor ke tetangga yang sedang lewat. Saat ini, kala pandemi Mbah Suratinemlah yang banyak menemani sang cucu untuk mengambil dan mengumpulkan tugas dari sekolah.

***

Salurkan Donasi Terbaikmu, Dengan Cara:

  1. Klik tombol “DONASI SEKARANG“;
  2. Isi nominal donasi yang ingin diberikan;
  3. Pilih metode pembayaran GO-PAY/Mandiri/BCA/BNI/BNI Syariah/BRI dan kartu kredit;
  4. Dapat laporan via email

DISCLAIMER

  1. Seluruh hasil penggalangan dana akan digunakan untuk membantu membelikan HP dan kuota internet untuk siswa tak mampu belajar selama pandemi
  2. Fundraising ini adalah bagian dari Program Mobile Social Rescue (MSR) yang fokus membantu meringankan permasalahan sosial dan ekonomi; dan
  3. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi ACT DIY (0821 3801 3780 / Kharis)