JANGAN SAMPAI PESANTREN AL-MANNAR GARUT TERISOLIR

Perkenalkan saya Fahd Pahdepie. Banjir bandang yang melanda wilayah Pameungpeuk, Garut Selatan, 12 Oktober lalu meninggalkan kisah pilu. Pondok Pesantren Al-Mannar, Cibalong, kini terisolir karena satu-satunya akses jembatan gantung yang menghubungkan pesantren ini dengan desa Mekarwangi terputus.

d8f54de5-24ae-4932-97f6-d5e57e75e8af.jpg

Jembatan itu bukan hanya akses pesantren, tetapi sekaligus akses warga Desa Sagara secara umum. Pesantren Al-Mannar Sindangsono terletak di desa Sagara itu, menjadi pusat pendidikan Islam tumpuan warga sekitar bahkan dari desa-desa lain di sekitar Cibalong, Garut Selatan.

b9ef425f-58a9-405a-aca4-bdaaadf1541b.jpg

Pasalnya pesantren itu tak memungut biaya sepeserpun dari santrinya. 117 santri putera dan puteri yang kini mondok di sana membawa bekal sendiri-sendiri dari rumah, beras maupun kebutuhan lainnya. Para guru dan ustadz pun tak digaji, tak dibayar sepeserpun, mereka ikhlas mengajar untuk membantu para santri yang notabene berasal dari keluarga kurang mampu.

5a4970d9-e849-406b-8dc4-3ae7b3957772.jpg

Pesantren al-Mannar sejauh ini mengandalkan santunan dari para donatur, kadang ada juga bantuan dari pemerintah, seluruhnya diperuntukkan untuk para santri. Jika ada yang bisa diberikan kepada para guru dan ustadz, barangkali hanya sesekali, jika ada ‘aghniya’ atau donatur yang memberi santunan lebih. Namun tentu tak setiap bulan.

366cb773-b841-48dd-aaf1-376ce70898fb.jpg

Bersyukur pesantren itu dikelola dan dijalankan oleh para pejuang yang ikhlas. Yang tak berfikir materi. Banyak di antara mereka adalah para guru yang telah mengajar di sekolah lain. Dukungan dari warga juga tak pernah berhenti. Membuat santri al-Mannar terus bertambah, banyak yang datang untuk bisa belajar ilmu agama, menghafal Quran, dan lainnya. Desa Sagara menjadi riuh menjelma Kampung Santri.

65cde3cf-3262-4626-b0df-bbb50c3ab64c.jpg

Sayang, tragedi banjir yang memutuskan jembatan Sungai Cibaluk harus memupus keceriaan para santri. Selain sebagai penghubung antar desa menuju jalan utama, di jembatan itu pula biasanya para santri berjejer sambil menghafal Alfiyah, Safinah atau Jurumiyah. Kini mereka terisolir. Bahkan bangunan asrama puteri serta beberapa rumah ustadz pembina terancam roboh karena abrasi sungai.

4bf69be1-6317-4cc2-82aa-da3d95a09fad.jpg

Saat ini pihak pesantren dan warga sedang berusaha membangun beronjong agar bangunan asrama tak roboh. Mereka juga sedang mencari bantuan agar jembatan bisa tersambung lagi. Mereka membutuhkan dana aekitar 276 juta rupiah untuk mengerjakan semua itu. Hasil bantuan sejumlah donatur, kini telah terkumpul dana sebesar 83 juta rupiah.

Bantu saya untuk melukis kembali senyum para santri al-Mannar, agar mereka bisa terus belajar dan menghafal al-Quran. 

Mudir Pesantren al-Mannar saat ini, Ajengan Enggan Burhanudin, adalah guru saya selama di Pondok Pesantren Darul Arqam dulu. Saya membuka donasi selama dua minggu di kitabisa.com, semoga dalam dua minggu itu kita bisa mendirikan jembatan itu lagi.

38106d07-3fa0-4c68-8bd8-dd5cd5f9636a.jpg

Salam baik,

Fahd Pahdepie

Donasi bisa dilakukan dengan cara:

(1) Klik “DONASI SEKARANG
(2) Masukkan Nominal Donasi
(3) Pilih Metode Pembayaran (GO-PAY/BNI/BNI Syariah/BRI/BCA/Mandiri/Dompet Kebaikan/Kartu Kredit